Oleh Rifaq Asyfiya’,
Lc.
Sungguh
mulia jika seorang hamba beramal di dunia untuk meraih surga, maka perlu
dipahami bahwa surga bisa diraih dengan berbakti kepada kedua orang tua, suatu
hal yang sepele tapi agung di sisi Allah SWT.
Keridhaan
orang tua adalah kunci masuk surga
Rasulullah SAW bersabda:
“Keridhaan Allah berada
pada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah berada pada kemarahan orang tua.”
{HR at-Tirmidzi 4/310 no. 1899}
Dari Mu’awiyah bin Jahimah
as-Sulami bahwasanya Jahimah RA datang kepada Nabi SAW lalu berkata: “Wahai
Rasulullah, saya hendak berjihad, saya menemui tuan untuk meminta pendapat
tuan.” Rasulullah SAW berkata: “Apakah engkau memiliki ibu?” Ia menjawab:
“Iya.” Rasulullah SAW berkata: “Senantiasalah bersamanya, sesungguhnya surga
berada di bawah kedua kakinya.” {HR an-Nasa’I 6/11 no. 3104}
Dari Abdullah bin ‘Amr RA
beliau berkata:
“Datang seorang pria kepada
Nabi SAW dan berkata: ‘Saya datang untuk membai’at tuan untuk berhijrah dan
saya meninggalkan kedua orang tua saya dalam keadaan menangis.” Maka Rasulullah
SAW berkata: “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah mereka berdua
tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka berdua menangis.” {HR Abu Dawud
3/17 no. 2528}
Dari Abu Hurairah RA, Nabi
SAW bersabda:
“Sungguh terhina, sungguh
terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya: “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau
bersabda: “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih
hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia
tidak masuk surga.” {HR Muslim}
Maka hendaknya seorang anak
berusaha untuk mencari keridhaan orang tua, menyenangkan hati orang tua,
membuat mereka tersenyum dan tertawa. Sesungguhnya senyuman orang tua karena
ridha terhadap anaknya, meskipun tampaknya sepele, bernilai besar di sisi Allah
SWT.
Pintu
surga
Surga memiliki beberapa
pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Dari Abu Darda’ RA,
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang tua adalah pintu surga
paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.”
{HR Ahmad 28276}
Jasa
orang tua begitu besar
Sungguh, jasa orang tua –
apalagi seorang ibu – begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung
berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula
saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur
di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Dari Abu Burdah,
beliau melihat Ibnu Umar RA dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di
sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu
bersenandung: “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.”
Orang itu lalu berkata:
“Wahai Ibnu Umar, apakah saya telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar RA
menjawab: “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia
keluarkan ketika melahirkan.” {Adabul Mufrad no. 11}
Dosa
“mendurhakai orang tua”
Abu Bakrah RA berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan
balasannya bagi para pelakunya di dunia ini – berikut dosa yang disimpan
untuknya di akhirat – daripada perbuatan melampaui batas kezhaliman dan memutus
silaturahmi dengan orang tua dan kerabat.” {HR Abu Dawud}
Di
antara bentuk “mendurhakai orang tua”
Abdullah bin Umar RA
berkata: “Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka terhadap orang
tua.” Mujahid berkata: “Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua
orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti
adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam.
Barang siapa membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai
keduanya.”
Ka’ab al-Ahbar pernah
ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka terhadap orang tua;
beliau berkata: “Apabila orang tuamu memerintahmu dalam suatu perkara (selama
bukan dalam maksiat) namun engkau tidak menaatinya, berarti engkau telah
melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.” {Birrul Walidain, hlm.
8}
Hati-hatilah
dengan doa jelek orang tua
Abu Hurairah RA berkata:
Nabi SAW bersabda:
“Ada tiga jenis doa yang
mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa
orang yang bepergian, dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” [HR
Abu-Dawud]
Jika
anak telah berkeluarga
Seorang anak, meskipun telah
berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini
tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun, sangat disayangkan,
betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban
ini. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan
beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua
orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak
keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah
dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doa): ‘Wahai
Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada
waktu kecil.” [QS al-Isra’: 23-24]
Apabila
orang tua telah meninggal
Celakalah orang yang
sempat mendapati masa tua kedua orang tua atau salah satu darinya, kemudian ia
tidak masuk surga. Nabi SAW bersabda:
“Dia celaka! Dia celaka!
Dia celaka!” Lalu beliau ditanya: “Siapakah yang celaka, wahai Rasulullah?”
Jawab Nabi SAW: “Barang siapa mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut),
atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tak berusaha masuk surga (dengan
berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).” [HR Muslim no. 4627]
Maka yang harus kita
lakukan apabila orang tua telah meninggal adalah:
1.
Meminta ampun kepada Allah SWT dengan taubat
nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu
mereka masih hidup.
2.
Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya
ke kubur.
3.
Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
4.
Membayarkan utang-utangnya.
5.
Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
6.
Menyambung silaturahmi kepada orang yang
keduanya juga pernah menyambungnya.
The image sourced of https://pendoasion.files.wordpress.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar