Senin, 27 Maret 2017

Menggapai Surga Dengan Berbakti Kepada Orang Tua





Oleh Rifaq Asyfiya’, Lc.


Sungguh mulia jika seorang hamba beramal di dunia untuk meraih surga, maka perlu dipahami bahwa surga bisa diraih dengan berbakti kepada kedua orang tua, suatu hal yang sepele tapi agung di sisi Allah SWT.
 
Keridhaan orang tua adalah kunci masuk surga
Rasulullah SAW bersabda:
“Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah berada pada kemarahan orang tua.” {HR at-Tirmidzi 4/310 no. 1899}
Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwasanya Jahimah RA datang kepada Nabi SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya hendak berjihad, saya menemui tuan untuk meminta pendapat tuan.” Rasulullah SAW berkata: “Apakah engkau memiliki ibu?” Ia menjawab: “Iya.” Rasulullah SAW berkata: “Senantiasalah bersamanya, sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.” {HR an-Nasa’I 6/11 no. 3104}
Dari Abdullah bin ‘Amr RA beliau berkata:
“Datang seorang pria kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Saya datang untuk membai’at tuan untuk berhijrah dan saya meninggalkan kedua orang tua saya dalam keadaan menangis.” Maka Rasulullah SAW berkata: “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka berdua menangis.” {HR Abu Dawud 3/17 no. 2528}
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya: “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” {HR Muslim}
Maka hendaknya seorang anak berusaha untuk mencari keridhaan orang tua, menyenangkan hati orang tua, membuat mereka tersenyum dan tertawa. Sesungguhnya senyuman orang tua karena ridha terhadap anaknya, meskipun tampaknya sepele, bernilai besar di sisi Allah SWT.

Pintu surga
Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Dari Abu Darda’ RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” {HR Ahmad 28276}

Jasa orang tua begitu besar
Sungguh, jasa orang tua – apalagi seorang ibu – begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Dari Abu Burdah, beliau melihat Ibnu Umar RA dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung: “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.”
Orang itu lalu berkata: “Wahai Ibnu Umar, apakah saya telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar RA menjawab: “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” {Adabul Mufrad no. 11}

Dosa “mendurhakai orang tua”
Abu Bakrah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia ini – berikut dosa yang disimpan untuknya di akhirat – daripada perbuatan melampaui batas kezhaliman dan memutus silaturahmi dengan orang tua dan kerabat.” {HR Abu Dawud}

Di antara bentuk “mendurhakai orang tua”
Abdullah bin Umar RA berkata: “Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka terhadap orang tua.” Mujahid berkata: “Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barang siapa membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”
Ka’ab al-Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka terhadap orang tua; beliau berkata: “Apabila orang tuamu memerintahmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat) namun engkau tidak menaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.” {Birrul Walidain, hlm. 8}

Hati-hatilah dengan doa jelek orang tua
Abu Hurairah RA berkata: Nabi SAW bersabda:
“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian, dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” [HR Abu-Dawud]

Jika anak telah berkeluarga
                Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun, sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doa): ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [QS al-Isra’: 23-24]

Apabila orang tua telah meninggal
                Celakalah orang yang sempat mendapati masa tua kedua orang tua atau salah satu darinya, kemudian ia tidak masuk surga. Nabi SAW bersabda:
“Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” Lalu beliau ditanya: “Siapakah yang celaka, wahai Rasulullah?” Jawab Nabi SAW: “Barang siapa mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).” [HR Muslim no. 4627]
Maka yang harus kita lakukan apabila orang tua telah meninggal adalah:
1.    Meminta ampun kepada Allah SWT dengan taubat nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup.
2.   Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
3.   Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
4.   Membayarkan utang-utangnya.
5.   Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
6.   Menyambung silaturahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.

The image sourced of https://pendoasion.files.wordpress.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar