Kamis, 28 Juli 2016

Adab Menguap dan Bersin

Pahala dari Allah tidak hanya bisa diraih dengan menjalankan ibadah-ibadah yang sifatnya mahdhah (murni) seperti shalat, puasa, zakat, haji, atau membaca Al-Qur’an. Bahkan bisa juga diperoleh melalui aktivitas-aktivitas duniawi seperti makan, minum, tidur, bekerja, dan sebagainya. Bahkan sesuatu yangdianggap remeh oleh kebanyakan manusia bisa menjadi ladang pahala. Bersin dan menguap contohnya. Kedua hal tersebut, walaupun kecil di mata kita, bisa mendatangkan pahala bila kita menunaikan adab-adab yang diajarkan oleh Islam berkenaan dengannya. Berikut ulasannya.


Menguap dan Bersin adalah Dua Hal yang Bertolak Belakang
            Menguap dan bersin sering disandingkan dalam satu pembahasan karena memang ada hubungan antara keduanya, yaitu hubungan yang bersifat tolak belakang. Bersin adalah perkara yang dicintai Allah, sedang menguap adalah perkara yang dibenci oleh-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
        “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.” (HR al-Bukhari: 6223)
        Para ulama menjelaskan hikmahnya bersin disukai dan menguap dibenci. Bersin disukai karena bersin mengarah kepada sifat kuat, giat, rajin, dan semangat. Sebab itu, bila kita perhatikan dalam banyak keadaan, orang yang bersin akan bangkit dan bersemangat, sedan Allah mencintai mukmin yang kuat lagi bersemangat.
        Sementara itu, menguap dibenci karena ia berasal dari setan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Adapun menguap maka itu berasal dari setan.” (HR al-Bukhari: 6223) Di samping itu, menguap merupakan simbol kemalasan. Karena itu, Allah membencinya. Justru kita diajari oleh syari’at agar berlindung dari sifat malas.

Adab Menguap

1. Berusaha menahannya sebisa mungkin.
2. Bila tidak mampu menahan maka tutuplah mulut dengan tangan.
3. Sebagian ulama menerangkan bahwa hendaknya tangan kirilah yang digunakan untuk menutup mulut.

Adab Bersin
1.    Hendaknya orang yang bersin memuji Allah dengan membaca: Alhamdulillah, dan pujian tersebut dikeraskan hingga orang lain mendengarnya.
2.   Tetap disyari’atkan membaca Alhamdulillah ketika bersin meskipun di dalam shalat, berdasarkan keumuman dalil yang memerintahkan untuk membacanya.
3.   Tidak disyari’atkan mengucapkan Yarhamukallah kepada orang bersin yang tidak memuji Allah.
4.   Seseorang tidak mengucapkan Alhamdulillah dengan lisan ketika ia berada dalam kondisi tidak boleh berdzikir (dengan lisan), misalnya ketika di dalam toilet, tetapi hendaknya ia tetap memuji Allah dalam hati.
5.   Tidak mengucapkan Yarhamukallah kepada nonmuslim yang bersin, tetapi kita do’akan dia dengan ucapan: Yahdikumullah wayuslihu balakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki urusanmu). (HR at-Tirmidzi: 2739)
6.   Ketika seorang bersin lebih dari tiga kali maka dia terkena flu dan kita pun tidak memberi ucapan Yarhamukallah setelah bersin ketiga.
7.   Ketika seorang bersin hendaknya dia menutupkan tangan atau bajunya ke mulutnya dan merendahkan suaranya.

Adab-adab di atas sesungguhnya tidaklah terlalu berat, namun Allah mencatatnya sebagai amal shalih yang berpahala. Sebab itu, seorang muslim hendaknya bersemangat mengamalkannya, sehingga mendapatkan keutamaan besar di sisi Allah. Semoga bermanfaat dan kita bisa mengamalkannya. Aamiin.

Oleh Hafidz Al Musthofa Abu Najah, Lc.

The image sourced of www.penabiru.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar