Selasa, 10 Maret 2015

Lihatlah Orang yang di Bawahmu, Jangan Melihat Orang yang di Atasmu

Oleh Abu Haitsam

Dalam masalah dunia, lihatlah orang yang di bawah
Rasulullah bersabda: “Pandanglah orang yang di bawahmu dan janganlah engkau pandang orang yang di atasmu (dalam masalah ini). Dengan begitu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR Muslim: 2963)
            Yang dimaksud dengan perintah “memandang orang yang di bawah” adalah dalam urusan dunia atau harta. Dalilnya ialah sabda beliau, “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (postur) tubuh maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR al-Bukhari: 6490 dan Muslim: 7617)
            Seseorang tidak akan meremehkan nikmat Allah apabila sikap ini (melihat orang yang di bawahnya dalam urusan duniawi) dia terapkan dalam hidupnya. Ketika dia bertamu ke rumah pejabat dan melihat keindahan ruangan dan kemewahan perabotan, dalam hatinya mungkin terbersit “rumahku masih kalah dari rumah bapak pejabat ini”. Namun, ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata masih lebih bagus rumahku dibanding dengan rumah tetangga.” Dengan memandang orang yang di bawahnya, dia tidak akan meremehkan nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.
            Lain halnya dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki ponsel iPhone atau Blackberry seharga lima jutaan ke atas, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya, yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat. Dia menganggap bahwa nikmat tersebut (ponsel yang dia miliki) masih sedikit / kecil nilainya. Bahkan, yang lebih parah, selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal, masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru, namun banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.


Urusan akhirat, pandanglah yang di atasmu
            Adapun dalam masalah akhirat (ibadah dan amal shalih) hendaknya seseorang melihat orang yang di atasnya. Rakus terhadap perkara duniawi tercela, tetapi rakus terhadap pahala terpuji. Qana’ah dengan harta adalah sifat mulia, tetapi qana’ah dengan amal shalih adalah sifat buruk.
            Sebagian salaf mengatakan, “Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah daripada dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Latha’if al-Ma’arif, hlm 268)
            Sahabat Abu Hurairah pernah menuturkan, “Orang-orang miskin (dari para sahabat Nabi) pernah datang menemui Nabi. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya yang memiliki banyak harta telah memborong pahala. Mereka dapat melakukan shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun, mereka dengan kelebihan hartanya dapat menunaikan haji, umrah, jihad, dan sedekah; sedangkan kami tidak memiliki harta….’ Dalam riwayat Muslim, di akhir hadits, Rasulullah bersabda, ‘Itu adalah karunia dari Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR al-Bukhari: 807, Muslim: 595)

Penutup
            Pembaca yang berbahagia, tentu kita sepakat bahwa kebahagiaanlah yang kita cari dalam hidup ini. Persoalannya, di manakah kebahagiaan itu? Kebahagiaan bukanlah didapat dengan menjadi raja. Kebahagiaan bukan didapat dengan menjadi sukses. Namun, kebahagiaan bisa diperoleh dengan merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan. Rasulullah bersabda, “Sungguh sangat bahagia orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim: 2473)
            Sejatinya, apa yang diangan-angankan dari orang-orang kaya, semuanya mengerucut pada makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan. Karena itu, jika seorang muslim dapat memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, ada rumah tempat ia bernaung dan aman di dalamnya, serta badan yang sehat, maka seolah-olah dunia telah ia pegang. Rasulullah bersabda, “Barang siapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberi kesehatan badan, dan menjumpai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.” (HR at-Tirmidzi: 2346; dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah: 2318)
            Akhirulkalam, ketahuilah bahwa ujian harta itu sangat berat. Allah kelak akan menanyakannya dua kali: 1) dari mana harta ia dapatkan, dan 2) ke mana harta dia belanjakan. Haramnya harta adalah adzab, sedangkan halalnya adalah hisab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar