Nah, ini nih, topik yang lumayan penting menurut aku. Kenapa
penting? Karena banyak pertanyaan yang muncul setelah kita bermimpi. Misal, apakah
sebenarnya hakikat dari mimpi itu? Apakah setiap mimpi yang dialami seorang
muslim itu selalu benar dan akan menjadi kenyataan? Apakah setiap mimpi itu
adalah perintah dari Allah yang harus dilaksanakan dan ditaati seperti mimpinya
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan Allah untuk menyembelih
putranya Ismail ‘alaihissalam? Ataukah mimpi itu hanya sekedar bunga
tidur yang tidak ada faedahnya? Bagaimanakah kedudukan mimpi itu dalam Islam,
dan bagaimana sikap serta keyakinan yang benar tentang mimpi tersebut?
Secara umum pembahasan tentang mimpi ini sangat
diperlukan karena beberapa hal, di antaranya adalah:
1. Munculnya golongan
yang berlebihan dalam meyakini mimpi
Mereka itu adalah orang-orang yang
menjadikan mimpi sebagai dalil dalam beragama, mengharamkan sesuatu dengan
hujjah sebuah mimpi atau menghalalkan sesuatu juga dengan berlandaskan mimpi.
2. Munculnya golongan
yang meremehkan mimpi
Mereka adalah orang-orang yang
menyepelekan mimpi, meyakini bahwa mimpi itu hanya bunga tidur yang tidak ada
artinya sama sekali. Mimpi itu tidak berarti apa- apa, hanya seperti dongeng,
dan pelengkap tidur.
Sikap yang benar dalam masalah mimpi adalah
pertengahan, maksudnya tidak berlebih-lebihan sehingga menjadikannya sebagai
wahyu, dan tidak pula meremehkannya sehingga tidak meyakini bahwa sebagian
mimpi itu berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
dalam kitabnya menyebutkan pembagian mimpi yang dialami oleh seseorang sebagai
berikut.
Pertama: Mimpi yang benar lagi baik.
Contohnya
seperti mimpi Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam beberapa waktu sebelum
perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada bagian yang retak. Ternyata
retak pada pedang beliau tersebut makdunya adalah paman beliau, Hamzah radhiyaAllahu
‘anhu, akan gugur sebagai syahid.
Kedua: Mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya
sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dalam
hidupnya. Karena kebanyakan manusia bermimpi dalam tidurnya apa yang memenuhi
pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur). Mimpi yang seperti ini tidak ada
hukumnya.
Ketiga: Gangguan dari setan yang bermaksud
menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dalam tidur
seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dengan dirinya, harta,
keluarga, atau masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat
sedih kaum mukminin.
Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali
mimpi seorang muslim yang tak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di
antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah
sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: (1)
Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. (2) Mimpi yang menakutkan
atau menyedihkan, datangnya dari setan. (3) & mimpi yang timbul karena
ilusi angan-angan, atau khayalan seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang
tidak kamu senangi maka bangunlah, kemudian shalatlah, & jangan
menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Muslim 2263)
Itu tadi penjelasan singkat tentang macam-macam mimpi, perlu dipahami bahwa dalam menafsirkan mimpi dan mengategorikannya diperlukan ilmu yang mendalam tentangnya. Sehingga dari sini dapat diketahui bahwa tidak sembarang orang bisa menafsirkan mimpi, dan hanya ulama yang benar-benar mumpunilah yang mampu melakukannya.
Ditulis oleh: Agus Suranto
The image sourced of www.finansialku.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar