Rabu, 27 April 2016

MIMPI DALAM PANDANGAN ISLAM

Nah, ini nih, topik yang lumayan penting menurut aku. Kenapa penting? Karena banyak pertanyaan yang muncul setelah kita bermimpi. Misal, apakah sebenarnya hakikat dari mimpi itu? Apakah setiap mimpi yang dialami seorang muslim itu selalu benar dan akan menjadi kenyataan? Apakah setiap mimpi itu adalah perintah dari Allah yang harus dilaksanakan dan ditaati seperti mimpinya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya Ismail ‘alaihissalam? Ataukah mimpi itu hanya sekedar bunga tidur yang tidak ada faedahnya? Bagaimanakah kedudukan mimpi itu dalam Islam, dan bagaimana sikap serta keyakinan yang benar tentang mimpi tersebut?



Secara umum pembahasan tentang mimpi ini sangat diperlukan karena beberapa hal, di antaranya adalah:
1.  Munculnya golongan yang berlebihan dalam meyakini mimpi
Mereka itu adalah orang-orang yang menjadikan mimpi sebagai dalil dalam beragama, mengharamkan sesuatu dengan hujjah sebuah mimpi atau menghalalkan sesuatu juga dengan berlandaskan mimpi.
2.  Munculnya golongan yang meremehkan mimpi
 Mereka adalah orang-orang yang menyepelekan mimpi, meyakini bahwa mimpi itu  hanya bunga tidur yang tidak ada artinya sama sekali. Mimpi itu tidak berarti apa-  apa, hanya seperti dongeng, dan pelengkap tidur.

Sikap yang benar dalam masalah mimpi adalah pertengahan, maksudnya tidak berlebih-lebihan sehingga menjadikannya sebagai wahyu, dan tidak pula meremehkannya sehingga tidak meyakini bahwa sebagian mimpi itu berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya menyebutkan pembagian mimpi yang dialami oleh seseorang sebagai berikut.

Pertama: Mimpi yang benar lagi baik.
            Contohnya seperti mimpi Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam beberapa waktu sebelum perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada bagian yang retak. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut makdunya adalah paman beliau, Hamzah radhiyaAllahu ‘anhu, akan gugur sebagai syahid.

Kedua: Mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Karena kebanyakan manusia bermimpi dalam tidurnya apa yang memenuhi pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur). Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya.

Ketiga: Gangguan dari setan yang bermaksud menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dengan dirinya, harta, keluarga, atau masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat sedih kaum mukminin.

Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: (1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. (2) Mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari setan. (3) & mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayalan seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi maka bangunlah, kemudian shalatlah, & jangan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Muslim 2263)

Itu tadi penjelasan singkat tentang macam-macam mimpi, perlu dipahami bahwa dalam menafsirkan mimpi dan mengategorikannya diperlukan ilmu yang mendalam tentangnya. Sehingga dari sini dapat diketahui bahwa tidak sembarang orang bisa menafsirkan mimpi, dan hanya ulama yang benar-benar mumpunilah yang mampu melakukannya.


Ditulis oleh: Agus Suranto

The image sourced of www.finansialku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar